Film Synopsis: After The Fall

Bill (left) and Frank (right)
Bill (left) and Frank (right)

Bill seorang agen asuransi baru saja dipecat dari pekerjaannya. Bukan karena kesalahan dalam bekerja atau buruknya kinerja, ia bahkan dua kali mendapat penghargaan karyawan teladan dari perusahaan. Ia dipecat karena kejujuran dan keuletannya. Setiap klaim yang diajukan oleh pemegang polis kepadanya selalu berhasil didapatkan. Perusahaan merasa dirugikan atas kelakuan Bill yang seperti itu.

Ia tinggal di sebuah rumah mewah di perumahan di tengah gurun bersama istri dan kedua orang anaknya. Sebuah kolam renang di halaman rumah dimanfaatkannya untuk bersenang-senang bersama keluarganya. Anaknya sangat senang dengan kolam itu, apalagi jika ayahnya menjanjikan untuk bermain bersama di sana.

Tanpa ada penghasilan tetap membuat Bill sering berurusan dengan penagih hutang. Tiap hari ia menjual barang-barang bekas, banyak dari barang itu adalah kesayangan dan pemberian ayahnya. Kekacauan bertambah dengan seringnya ia mendapat surat teguran dari sekolah anaknya yang suka menyontek.

Suatu malam ia berjalan ke tengah gurun. Dilihatnya coyote sekarat dengan isi perut berceceran keluar. Ia kembali ke rumahnya untuk mengambil pistol dan menembak mati coyote itu. Paginya ia kuburkan coyote itu lalu berhenti sejenak di bawah pohon. Bill kelihatan memikirkan sesuatu sambil memandangi pistol yang digunakannya untuk membunuh coyote semalam.

Saat pulang Bill mampir untuk mengambil minum dari sebuah pompa di pinggir jalan. Pompa air sudah tak bisa digunakan atau air sedang kering. Bill masuk ke sebuah rumah yang terbuka menuju kran air di dalam rumah. Bill mendegar desahan wanita di ruangan lain. Penasaran, Bill menghampiri ruangan itu dan melihat sepasang manusia berdiri berlawanan bersandar meja tanpa celana. Kedua orang itu kaget melihat Bill yang tiba-tiba ada di depan mereka dengan sebuah senapan. Sang pria memberikan dompetnya kepada Bill. Dengan ragu, Bill menerima dompet itu, mengambil uangnya, lalu hanya meletakkan saja dompetnya.

Sebelum pergi, Bill bertanya pada kedua orang tadi, “seharusnya .. aku mengikatmu atau bagaimana kan?”

“Tidak perlu, tidak …”

Bill pulang bersama perasaan yang bercampur. Sejak saat itu, Bill mulai terbiasa dengan perampokan.

Di tempat permainan bowling, Bill bertemu dengan Frank yang nanti akan menjadi sahabat dekatnya. Pertemuannya di awali ketika teman Bill membuat kekacauan di arena bowling, dan Frank memberikan uang damai kepada pemilik arena.

Bill sering duduk bersama Frank, sekedar berbincang sambil minum bir. Frank seorang polisi yang meragukan keadilan.

“Moralitas sebuah ilusi. Kita menciptakan tuhan untuk menahan diri kita masing-masing, dan menghajar satu sama lain sampai mati bersama kumpulan kita sendiri. Itu tak diperbolehkan lagi, jadi kita sekarang memiliki polisi dan senjata, kursi listrik dan penjara. Ini semua omong kosong, hanya ketakutan yang membuat kita sejalan. Tak ada dosa, tak ada kebajikan. Hanya sesuatu yang orang-orang kerjakan,” nasehat Frank.

Seorang pemilik swalayan memperlakukan pegawainya tanpa perasaan. Bill yang sering belanja di tempat itu dan kenal dengan karyawan tersebut, merasa tidak nyaman dengan perlakuan majikan tadi. Malamnya, Bill memberikan pelajaran kepada pemilik swalayan itu dengan merampok uang dalam cash register, saat semua karyawan sudah pulang dan hanya tinggal pemiliknya. Sejak saat itu, perlakuan majikan telah berubah.

Frank sangat dekat dengan Bill, bersantai, bermain bersama, bahkan ia diundang untuk makan bersama keluarga Bill.

Lama kelamaan istri Bill mulai meragukan ucapan Bill bahwa ia masih bekerja di perusahaan asuransi. Ia membuntuti Bill dan menemukan bahwa Bill sudah tak bekerja di sana.

Frank melihat sebuah pengumuman di layar monitor kantornya. Seorang berusia 30-an, kaukasian, dengan sketsa wajah yang nampaknya ia kenal. Kasus itu menjadi terkenal di kantor Frank.

Melihat ciri-ciri yang sudah tak diragukan lagi bahwa itu adalah temannya, Frank memanggil Bill untuk sedikit menasehatinya.

Istri Bill mulai mengetahui apa yang disembunyikan Bill tentang perampokan yang dilakukannya selama ini. Ia pergi dari rumah bersama kedua anaknya, ke rumah orang tuanya.

Bill mulai frustasi dengan berbagai hal yang terjadi. Ia pergi ke kolam tempat ia bermain bersama anaknya. Dimasukkannya zat azam ke dalam kolam, yang ia kemudian memasukkan dirinya. Tubuhnya terbakar oleh reaksi larutan itu.

Anaknya yang tidak betah ingin bertemu ayahnya mengajak ibunya untuk pulang kembali. Bill senang dapat bertemu keluarganya lagi.

Bill menjual rumah mewahnya, namun belum ada yang mau membelinya.

Kolam renang sudah Bill tutupi dengan pasir. Anak-anak Bill memandangi kolam itu dan merebahkan dirinya di atas pasirnya. Bill mengambil selang air dan menyemprotkannya ke anak dan istrinya, mereka bahagia bermain lagi.

Bill membaca koran. Di salah satu kolomnya termuat telah tertangkapnya seorang perampok.

Bill pergi ke rumah seorang anak yang diketahuinya adalah anak permapok tersebut.

Bill berkata pada istrinya bahwa ada seorang yang merampok sebuah pom bensin, namun di pengadilan ia didakwa atas apa yang Bill telah lakukan selama ini. Bill bingung apa yang harus ia lakukan.

“Tak ada, tak ada yang bisa kau lakukan. Dia seorang penjahat, dia akan masuk penjara. Ini tak ada hubungannya denganmu. Kau juga punya anak. Ini keluarga kita Bill. Ini sudah berakhir.”

Bill pergi ke rumah anak itu lagi dengan membawa sebuah kado yang diletakkan di depan rumah anak itu. Ia dibuntuti Frank. Frank menyuruh Bill untuk minggir dengan sirine polisinya.

“Kau pikir tidak terlalu awal untuk bermain santa clauss?”

“Apa?” tanya Bill.

“Jangan bodoh, kita berdua tahu apa yang sedang terjadi.”

“Aku senang ini terjadi, aku ingin memberitahumu sesuatu.”

“Tidak! Tak ada yang terjadi jika kau tak memberitahuku. Kau tidak melakukan apapun!” bentak Frank. “Apa yang mau kau lakukan, kau mau menghancurkan keluargamu? Ini kacau sekali, kau ingin mengacaukannya sekali lagi? Pergi Bill, temui keluargamu!” lanjut Frank.

Di depan kantor polisi, Bill menghentikan mobilnya. Lama ia memandangi kantor itu dari balik kaca di dalam mobilnya.

Advertisements

The Three Faces

The steps sounded loudly on my ears. It just few steps from the door. A big black shadow was approaching me with its dead skin finger pointing out to me. I could feel its breath through the air. And it talked with high sound voice. I literally could feel my body shaken and my sweat came out of nowhere. I know one thing, fear was consuming me. As I moved to the corner of my bed, it kept talking. I remembered it clearly.

“What have you done to us?”

“Have you never considered your actions toward us?”

“Us? What is it talking about? Isn’t it only one?” I responded in my mind

” Of course it is “us”. You think we are just one, don’t you?”

I was shocked. It could read my mind! Oh how screwed I am..

“You never consider us seriously. You know that you are gonna die one day. You keep forgetting important things”

“You have walked with me until now. I have walked with everybody since the beginning. I see everything. Destruction, wars, plague, death, peace, happines, everything.”

“And I see along the line that you and your kin never learn. Now I’m talking to you to make things clear”

“I’have seen your journey. I’m seeing your journey an I will see your journey. Following your steps until all of these over. You can’t escape me. For I live inside your thoughts. I’m everything you choose. I’m you. But you’re not me”

“You only got one. Use it wisely. Choose the best actions , decisions to spend it. Because you won’t get it back. You won’t Get me back”

It stopped talking. I was really confusing about everything it said. And only one thing that I can ask.

“W-wwho are you… Sir? And w-wwwhy are you tell-lll-ing me this?”

I could see its face when he answered

“I am time. We are time”

It suddenly opened its dark hood, and there it was, one head with three faces. The right one looks like an old man. The middle one doesn’t have any physical form. It keeps changing. And the last one was using a mask. Nothing can be seen from it.

“We will come again. And when we come , I hope you’ve changed. You will be better”

And then it disappeared into thin air. Leaving me and a silent dark room. I was shaking and filled with sweat.

And I woke up feeling my heart beating so fast and my body full of sweat. I was just dreaming. The weirdest dream of my life.

-Lalu Zam-